2018-11-26 07:45:55

Oleh: Miftahul Ulum




Mahasiswa Ilmu Sejarah Unair Surabaya






Di tengah proses Islamisasi kehidupan bangsa masa kini, Nasionalisme Indonesia justru tampak kedodoran karena sudah menderita cacat berat.- Ariel Heriyanto




Bangsa Indonesia kini menghadapi tantangan yang cukup berat yaitu semakin menguatnya kutub Islam (agama) yang tidak diimbangi peningkatan kutub kebangsaan. Apakah di zaman awal kemerdekaan hal ini tidak terjadi?. Tentu saja terjadi, namun  dalam konteks yang berbeda. Perdebatan Sukarno sebagai garda depan pembela nasionalisme berdebat sengit dengan Natsir sebagai rivalnya yang berada di sisi Islam. Lalu mengapa hari ini kekhawatiran akan kebangkitan Islam dianggap mengkhawatirkan akan merusak paham kebangsaan? Kiranya perlu penelusuran sejarah yang teliti untuk menguak sejauh mana pengaruh Islam dalam kehidupan bangsa indonesia sekaligus mulai cacatnya kebangsaan kita.




Paham Nasionalisme masuk ke Indonesia bukan semata-mata langsung disuarakan oleh kaum bumiputera. Akan tetapi di bawa oleh kaum Indo dan peranakan timur asing yang kepentinganya diganggu oleh kebijakan kolonial di Hindia Belanda. Kaum Indo merasa juga berhak atas pemenuhan kehidupanya, begitu pula kaum peranakan timur asing. Kepentingan modal yang terusik, membuat mereka ingin di dengar, diakui keberadaanya dalam kehidupan politik, sosial dan ekonomi Hindia Belanda.




Barulah kemudian Tirto Adi Suryo, Tjokro aminoto, Dr. Soetomo membangun pondasi awal Nasionalisme Indonesia melalui pers, dan organisasi. Lalu perintis pergerakan Indoneisa yang mendapat pendidikan baik dari politik etis di Hindia belanda maupun dari negeri Induk Belanda semakin memperkuat Landasan bangunan kebangsaan Indonesia. Hatta membawa suntikan pemikiran bahwa kemerdekaan Indonesia adalah tujuannya.




Awal abad XX menjadi titik kebangkitan negeri-negeri untuk membentuk kebangsaan mereka. Terutama negeri yang “diasuh” oleh bangsa lain. Karena menurutnya, Nasionalisme dianggap sebagai satu-satunya jalan terang yang akan memberikan keadilan, kesejahteraan bagi warga negaranya. Begitu juga dengan indonesia, baik dari beragam perspektif ideologi di awal pendirianya terlihat semua sepakat untuk Indonesia sebagai sebuah Negara Bangsa yang berideologi Pancasila.




Namun ketika Suharto memimpin Indonesia, kebijakanya yang diskriminatif kekuatan-kekuatan di luar militer dan partai Golkar menjadikan bom waktu yang berbahaya terhadap keindonesiaan kita. Islam sebagai kekuatan politik, menjadi satu-satunya alternatif kekuatan dalam melawan kekuasaan pada saat itu. Pengkerdilan atas kekuatan umat Islam mulai mengendor di awal 1990-an sampai berakhirnya orde baru. Upaya untuk merangkul kelompok Islam demi menyelamatkan orde baru ternyata tak tertolong. Bom waktu meledak. Islam yang sebelumnya sebagai kekuatan politik dikebiri, mulai membuncah dengan berakhirnya orde baru.




Di sisi lain, Paham kebangsaan mulai rapuh oleh bangunan kebangsaan yang dibangun oleh Suharto melalui searngkaian doktrinasi yang kaku. Internalisasi dan sosialisasi atas kebangsaan tidak sampai pada aktivitas praktis kehidupan sehari-hari. Pancasila sebagai ideologi bangsa gagal diterjemahkan ke dalam laku kehidupan. Sehingga kesan yang muncul adalah ideologi abstrak yang hanya menjadi angan-angan, paling jauh sebatas dibicarakan dalam forum seminar maupun pidato-pidato pejabat






Ketidakpercayaan Masyarakat




Tidak kunjungnya negara (pemerintah) menunaikan tugasnya mengakibatkan munculnya ketidakpercayaan warga negara terhadap negara. Kehidupan ekonomi yang tak kunjung membaik menimbulkan ketidakpastian hidup, lalu mencari pegangan hidup untuk tetap bertahan. Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam menemukan pelarian dari himpitan hidup pada agama Islam yang menjanjikan solusi atas hidup, kesejahteraan dan kejayaan. Hal itu beriringan dengan gagalnya negara mewujudkan itu semua.







Kegelisahan dan ketidakpercayaan ini ditangkap oleh politisi buruk yang mampu menyulap hal itu menjadi barang jualan politik. Dialog politik yang idealnya bertabur gagasan akan kemajuan bangsa malah berbuah politik identitas yang mengancam keutuhan bangsa. Pun publik semakin mengamini akan hal itu dengan berduyun-duyun masuk dalam rombongan “kampret” dan “cebong” dalam dialog publik.




Parahnya, berita bohong (hoax) semakin menyokong kondisi yang sedemikian rupa menjadi lebih rumit. Upaya untuk mengurai permusuhan diantara sentimen golongan dan kelompok terhalang lagi oleh bumbu hoax yang semakin hari semakin tak terkendali. Tidak hanya itu, hoax pun memang dimanfaatkan oleh politisi busuk untuk terus mendulang suara dari ceruk masyarakat yang tidak puas akan pemerintah (negara).




Realitas ini menunjukkan jika masyarakatnya tidak segera berbenah bukan tidak mungkin Indonesia akan tinggal sejarah. Setidaknya optimisme dan empati untuk membangun Indonesia harus tetap ada terutama bagi generasi mudanya. Semua warga negara harus melakukan kerja-kerja produktif untuk menyelamatkan Indonesia dari ketegangan antara bangkitnya Islam dan kebangsaan.






Dialog Kebangsaan




Jurgen Habermas telah menawarkan solusi yang patut kita pertimbangkan dalam menata ulang kebangsaan kita. Demokrasi Deliberatif menawarkan imajinasi atas dialog diskursif untuk mengkonstestasikan ide-ide dan gagasan kebangsaan Indonesia. Alih-alih malah saling tuduh satu sama lain sembari mendaku paling Pancasilais dan Nasionalis.




Lebih lanjut pentingnya dialog adalah mengikis kecurigaan antar berbagai golongan. melalui dialog, golongan yang mendaku sebagai penjaga NKRI dan Pejuang Islam saling memahami kepentingan dan tujuan masing-masing. Tentu dalam koridor demokratis yang menjunjung tinggi nilai-nilai keterbukaan, kejujuran dan saling memahami.




Pihak-pihak yang bersitegang harus saling melepaskan ego sektoral dan primordialnya untuk kepentingan yang lebih besar. Kepentingan itu adalah Indonesia sebagai bangsa yang menjadi cita-cita bersama (becoming). Duduk bersama untuk mendiskusikan permasalahan kebangsaan yang masih akan terus diuji, kemiskinan yang masih ada, korupsi yang terus-menerus merong-rong sendi kehidupan bernegara.




Menurut hemat penulis, sudah saatnya tenaga kita akan lebih terarah pada kerja-kerja positif untuk kemajuan peradaban Indonesia. Daripada sibuk dalam perdebatan, dan riuh akan pertentangan kepentingan golongan penuh intrik. Agenda kemanusiaan dan keindonesiaan masih banyak yang perlu digarap. Kolaborasi antara semua elemen bangsa sangat dibutuhkan disini dengan segala spesialisasi pekerjaan masing-masing. Sebagai contoh pengabdian tulus ASN pada negara adalah satu upaya positif untuk ikut andil menyumbang batu bata Keindonesiaan. Perlu diingat, Indonesia adalah tanah air kita bersama yang patut untuk dijaga dan dilesatarikan sampai kapanpun.