Berita


Redaktur Web
2019-04-22 12:11:31

BDKSURABAYA – Sebanyak 280 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di wilayah kerja Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur sedang mengikuti Diklat Teknis Substantif Penilaian Pembelajaran. Diklat tersebut diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya di 8 wilayah kerja yaitu di Lamongan, Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Pasuruan, Nganjuk, Magetan dan Ngawi.  Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru MI dalam penilaian pembelajran tersebut rata-rata  bertempat di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab. setempat, kecuali di Pasuruan yang ditempatkan di Kantor Kemenag Kota Pasuruan. (22/04/2019).


Delapan angkatan diklat tersebut  dibuka kepala Kantor Kemenag atau yang mewakili dan  diikuti oleh 35 guru MI pada tiap angkatan, sehingga jumlah total guru MI yang mengikuti diklat sebanyak 280 orang. Mereka akan mengikuti proses pembelajaran selama 6 hari  dengan menerima  materi dasar, inti dan penunjang.


Ketika proses upacara pembukaan, beberapa poin penting disampaikan oleh pejabat yang membuka diklat, diantaranya disampaikan oleh Kasubbag TU Kantor Kemenag Kota Pasuruan, Munif. Ia menyampaikan bahwa di madrasah harus ada 3 hal  yang membuat madrsah tetap eksis, yaitu, distinction (pembeda), excellence (keunggulan),  dan destination (tujuan).


Madrasah yang mempunyai pembeda dibanding sekolah pada level yang sama akan senantiasa diminati masyarakat. Pembeda tersebut dapat berupa cara mengajar gurunya, manajamen madrasah,  dan sarpras yang ada. Guru diharapkan tidak mengajar dengan metode yang monoton, madrasah dikelola dengan baik dan ada perhatian terhadap sarpras yang ada di madrasah, misalnya masalah kebersihan fasilitas yang ada.


Di samping itu, dalam penjelasan Munif, madrasah harus punya keunggulaan yang tidak dimiliki sekolah sehingga ketika masyarakat akan menyekolahkan anak-anaknya akan memilih madrasah sebagai pilihan utama. Misalnya dalam hal pelayanan pendidikan kepada masyarakat.


Yang terakhir madrasah harus menjadi tujuan. Untuk menjadi tujuan masyarakat ketika menyekolahkan anak-anaknya, maka madrasah perlu mempunyai daya tarik tersendiri. Madrasah diharapkan dapat membaca kebutuhan masyarakat  yang berkaitan dengan pendidikan. Kegiatan pembelajaran yang ada di madrasah harus mampu menjawab  kerisauan masyarakat akan masa depan anak-anaknya.


Prosesi upacara pembukaan tersebut diakhiri dengan doa dan berlanjut dengan materi building, learning and commitment. (AF).