Berita


PBSDP
2017-06-16 03:05:18
MAHSUSI: BERDAKWAHLAH DENGAN AIR PUTIH

BDKSURABAYA.kemenag.go.id- Seorang penyuluh agama diharapkan menjadi  sosok pemersatu dan mampu berdiri di semua aliran dan golongan sehingga kehadirannya  berfungsi memberikan pencerahan pada masyarakat, bukan justeru meresahkan masyarakat. “Berdakwahlah dengan air putih, karena air putih mempunyai khasiat yang luar biasa. Setelah   minum, hausnya berkurang,” ungkap Kepala  Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Balitbang RI, Mahsusi ketika memberikan materi di hadapan peserta Diklat Penyuluh Agama Non PNS di Balai Diklat Keagamaan Surabaya (16/06/2017).


Ungkapan tersebut disampaikan untuk menggambarkan peran ideal penyuluh agama Islam di masyarakat.  Bentuk kenetralan penyuluh diibaratkan sebagai air putih, sehingga ketika berdakwah dengan air putih, masyarakat akan merasa tenteram dan mendapatkan ilmu karena  penjelasan dari seorang penyuluh tidak memihak pada aliran dan golongan tertentu. Materi yang disampaikan pun mneyejukkan, tidak menyinggung aliran dan golongan tertentu apalagi sampai meresahkan masyarakat.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa saat ini yang berprofesi sebagai penyuluh Agama Islam yang berstatus PNS hanya 3.000 orang dan itupun berada pada kota-kota tertentu. Jika diasumsikan bahwa setiap KUA dibutuhkan 8 penyuluh Agama Islam, maka idealnya  kebutuhan penyuluh Agama Islam di Indonesia saat ini diperkirakan sebesar 108.000 orang. Maka kehadiran penyuluh Agama Islam Non PNS sangatlah dibutuhkan. Menurut Mahsusi, rekrutmen penyuluh Agama Islam non PNS sampai saat ini berjumlah 40.000 orang, maka masyarakat masih banyak membutuhkan penyuluh Agama Islam.Ia berpendapat bahwa kehadiran penyuluh sangatlah dibutuhkan masyarakat. Tantangan bangsa ini ke depan semakin banyak, mulai dari ledakan penduduk yang begitu pesat sampai permasalahan yang selalu menghantui seperti peredaran narkoba,  penyalahgunaan media sosial dan mulai kendurnya jiwa nasionalisme. Jumlah penduduk yang semakin banyak akan menimbulkan konflik sosial karena adanya perebutan terhdap sumberdaya yang terbatas. Mahsusi menjelaskan bahwa idealnya jumlah penduduk Indonesia maksimal 300 juta orang. Lebih dari itu, maka bangsa ini sangat rawan dengan konflik. Dalam setiap konflik, isu agama seringkali dijadikan bahan, seperti konflik di Sampit atau dalam setiap peristiwa politik pilkada. Karenanya, peran penyuluh sangatlah diharapkan agar  mampu mencegah timbulnya konflik dan ikut menyelesaikan koinflik yang ada.

Di samping itu, saat ini kita sedang dihadapkan pada perang terhadap narkoba. Menurut Mahsusi,  hasil sitaan terhadap narkoba semakin meningkat, mulai dari 5 kwintal, 1 ton, 2 ton hingga saat ini 4 ton. Padahal barang yang tersita tersebut diperkirakan hanya 15% dari narkoba yang beredar sehingga sekitar 25 s.d. 30 ton narkoba sudah beredar di Indonesia. Jika 1 ton narkoba bisa membunuh 1 juta jiwa, maka narkoba  sangat berpotensi membunuh 30 juta penduduk. Biaya rehabilitasi yang tinggi terhadap pengguna narkoba juga berpotensi  menjadi penyulut pemiskinan masyarakat.

Mengenai pandangannya terhadap media sosial, masyarakat saat ini menurut Mahsusi terlena dengan media sosial sehingga waktu yang ada banyak tersita  untuk itu sedangkan kehidupan keagamaan mulai terabaikan. Maka kecenderungan masyarakat tersebut bisa dimanfaatkan penyuluh agama. Dakwah bisa dilakukan  melalui media sosial seperti WA, facebook dan media lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan tentang teknologi informasi bagi penyuluh agama.

Pada akhir uraiannya, ia berpesan agar penyuluh agama bisa membawa nama baik Kemenag. Ketika menjadi penyuluh agama,  maka mereka harus mengikararkan diri untuk ikut membantu Kemenag sehingga kinerja Kemenag ke depan semakin baik. (AF).