Berita


Redaktur Web
2018-09-10 13:37:11
NINIK: GRUP LEARNING BISA SAJA JADI SOLUSI YANG TEPAT

BDKSURABAYA – Gap kompetensi yang dimiliki seorang pegawai  tidak harus diselesaikan dengan diklat. Ada metode lain yang murah dan mampu mengatasi gap kompetensi yang dialami pegawai, diantaranya melalui grup learning (pembelajaran kelompok). Dengan melihat karakteristik gap kompetensi yang ada, maka akan dapat diketahui metode apa yang tepat. Demikian penjelasan Ninik, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya ketika diwawancarai tentang solusi terhadap gap kompetensi (10/09/2018).


Dalam penjelasan Ninik, gap kompetensi atau adanya kesenjangan antara komnpetensi yang dimilki pegawai dengan kompetensi yang seharusnya dikuasai, tidak bisa langsung diselesaikan dengan mengikutkan pegawai untuk diklat tertentu. Jika gap kompetensi tersebut berujud kompetensi teknis  yang  bisa dipelajari  sehari atau tidak memerlukan penjelasan yang memakan waktu yang relatif lama, maka pembelajaran kelompok akan menjadi solusi yang tepat. “Grup learning (pembelajaran kelompok) bisa saja jadi solusi yang tepat,” ujarnya.


Grup learning tersebut dilaksanakan dengan cara mengajari satu atau beberapa pegawai dalam satu seksi atau bagian dengan keterampilan tertentu. Tutor atau yang bertindak sebagai pengajar  bisa pegawai yang lebih mampu atau supervisor/kepala seksi. Sedangkan waktunya pun bisa fleksibel, tidak harus dengan jadwal tertentu.


Grup learning bisa dilakukan jika terjadi sebuah masalah dalam sebuah bagian ataupun dalam kondisi tidak ada masalah.  Dampak positif dari grup learning jika dilakukan ketika terjadi masalah adalah pegawai dengan gap kompetensi tertentu akan lebih terkesan dan ingat dengan kejadian tersebut. Namun hal tersebut juga mempunyai dampak negatif, yaitu ketika masalah muncul sedangkan pekerjaan berbatas waktu atau diburu dengan target. Sedangkan jika pembelajaran tersebut dilakukan dalam kondisi tidak ada masalah, biasanya pegawai kurang terkesan dengan materinya, namun  bisa mengantisipasi pekerjaan-pekerjaan yang berbatas dengan waktu. Dengan pengulangan sedikit pegawai akan cepat merespon sehingga pekerjaan mampu diselesaikan.


Ia menguraikan masih ada lagi metode lain yang mampu mengatasi gap kompetensi seperti belajar mandiri, coaching dan mentoring yang dilaksanakan untuk pegawai tertentu.(AF).