Berita


PBSDP
2017-11-28 11:59:29
TOHA:  PERBAIKAN TIDAK HARUS DIMULAI DARI HAL YANG BESAR

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Sebuah institusi pemerintah akan terus berkembang ketika dipimpin oleh seorang pemimpin yang peduli dengan kemajuan institusinya, bahkan jika perlu sampai hal yang terkecil. Sebuah masalah kecil akan mempunyai dampak yang besar ketika tidak diselesaikan dengan segera. Karenanya, sikap tanggap sangat diperlukan bagi seorang pemimpin. Demikian penjelasan Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Muchammad Toha ketika dimintai pandangannya tentang kepmimpinan sebuah insititusi (28/11/2017).


Bagi Toha, institusi pemerintah harus terus berbenah. Pembenahan internal dalam lembaga menurutnya tidak harus berisi sesuatu yang besar. Sebuah pembenahan tidaklah dipandang dari besar kecilnya melainkan kontinuitasnya. Akan lebih baik jika pembenahan tersebut dilakukan terus-menerus dan bisa dimulai dari yang kecil. “Perbaikan tidak harus dimulai dari hal yang besar,” ujar Toha.  Yang terpenting dalam membangun lembaga adalah berbenah dan terus berbenah hingga mencapai kualitas yang ideal. Baginya, sebuah institusi tidak boleh stagnan pada sebuah titik, namun harus secara kontinyu melakukan perbaikan di berbagai bidang. Prinsip kaizen teian (perbaikan yang sedikit dan terus menerus) ala manajemen Jepang menjadi referensi baginya dalam memimpin Balai Diklat Keagamaan Surabaya.


Di samping terus melakukan perbaikan, menurut Toha, menjadi seorang pemimpin perlu berpikir kreatif, artinya memikirkan sesuatu yang  belum tentu akan dipikirkan orang.  Ide perbaikan sebuah lembaga seringkali muncul dari pikiran-pikiran kreatif. Solusi atas masalah yang dihadapi juga tidak jarang timbul dari pikiran-pikiran kreatif seorang pemimpin. Hal tersebut bukan berarti mengabaikan saran dari bawahan. Sepanjang saran tersebut bagus dan berdampak pada kemajuan lembaga, maka saran dari bawahan bisa menjadi  dasar dalam pengambilan keputusan.





Hal yang tidak kalah penting bagi seorang pemimpin menurutnya adalah bahwa pemimpin perlu pandai membaca kondisi bawahan. Bawahan tidaklah sama dan sebangun namun begitu beragam. Ada kalanya perlu sikap lembut kepada bawahan, namun suatu saat juga harus bersikap tegas jika diperlukan. Apalagi hal tersebut menyangkut sesuatu yang bersifat darurat.


Menjadi seorang pemimpin dalam pndangannnya perlu memiliki semboyan kepemimpinan seperti yang diutarakan Ki Hajar Dewantoro, yaitu: “ing ngarso sung tuladha (di depan memberi contoh), ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), tutwuri handayani (di belakang memberikan kekuatan atau dorongan)”(AF).