Berita


PBSDP
2017-10-09 14:10:23
AMIN: HAKIKATNYA BMN JATIM NOMOR SATU

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag)  Provinsi Jawa Timur  ada pada peringkat kedua setelah Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo, namun jumlah satker di Gorontalo relatif lebih sedikit dibandingkan Jawa Timur. “Hakikatnya BMN Jatim Nomor satu,” demikian ujar Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur , Amin Mahfud ketika memberikan sambutan pada pembukaan Diklat Pengelolaan BMN dan Diklat Teknis Fungsional Pembentukan Jabatan Penyuluh Agama Islam di Balai Diklat Keagamaan Surabaya (09/10/2017).



Lebih lanjut  Amin menjelaskan bahwa pengelolaan BMN perlu mendapatkan perhatian. Jika terdapat barang yang kondisinya rusak berat, maka  perlu segra dihapus agar perencanaan belanja modal dalam DIPA bisa disetujui.  Di samping itu, ia menguraikan bahwa  tanah yang belum bersertifikat di Kemenag  relatif banyak sehingga perlu segera disertifikatkan agar tidak berpindah tangan ke pihak lain, seperti  kasus tanah di Kemenag Bojonegoro yang pada akhirnya beralih kepemilikan ke Pemkab Bojonegoro.



Pengelolaan BMN dan keuangan menurut Amin menjadi faktor yang menentukan  perolehan predikat laporan keuangan dari audit  Badan Pemeriksa Keuangan.  Predikat WTP (wajar tanpa pengcualian) atas laporan keuangan Kemenag tahun 2016 baginya menjadi prestasi yang perlu dipertahankan. Karenanya,  diklat bagi pengelola BMN dan keuangan yang diadakan BDK Surabaya menjadi sangat penting  karena  akan berpengaruh pada perolehan predikat tersebut.



Sedangkan kepada  peserta calon penyuluh agama Islam, Kepala Bagian TU  menjelaskan bahwa saat ini kebutuhan jabatan fungsional penyuluh agama Islam masih sangat dibutuhkan. Dari 665 KUA yang tersebar di Jawa Timur,  hanya sekitar 460 jumlah penyuluhnya sehingga masih kurang 200-an. Karir sebagai penyuluh menurutnya menjadi jabatan yang  prestisius karena jika sampai pada penyuluh madya gradenya bisa 11, setara dengan jabatan kepala Bagian di Kanwil Kemenag.



Pada akhir sambutannya, ia berpesan kepada seluruh peserta bahwa  dalam menjalani tugas dan fungsinya  diharapkan tidak memikirkan jabatan karena jabatan bisa hilang kapan saja. Sebaliknya, pegawai Kemenag perlu menerapkan motto Ihlas beramal dengan bekerja sebaik-baiknya.(AF).