Berita


PBSDP
2017-03-16 02:50:14
GURU MADIN DI PAMEKASAN BELAJAR TENTANG MODEL-MODEL PEMBELAJARAN

BDKSURABAYA.kemenag.go.id -  Model-model pembelajaran  menjadi materi inti dalam Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Guru Madrasah Diniyah yang dislenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Surabaya di Kankemenag Kab. Pamekasan (14 sd. 18 Maret 2017). Materi tersebut  berisi  model-model yang bisa diterapkan dalam proses pembelajaran di madrasah.


Menurut Jamal, widyaiswara  Balai Diklat Keagamaan Surabaya, model pembelajaran yang diterapkan saat mengajar perlu memperhatikan kondisi siswa, sarana dan prasarana yang  ada, bahan ajar dan kondisi guru. Ada beberapa model pembelajran yang ia jelaskan diantaranya, Pembelajaran Quantum, Jigsaw,  Kontekstual,  Kooperatif,  Realaistik, Problem Solving, Problem Terbuka,  Pembelajaran Bersiklus,  Reciprocal Learning dll.


Dalam penjelasan Jamal, pembelajran quantum (quantum learning) adalah sebuah model pembelajaran di mana siswa mmapu memepertajam pemahaman dan daya ingat serta memporses pembelajaran menjadi bermakna, menyenangkan dan bermanfaat dengan cara menggabungkan kegiatan antara bermain dan bekerja. Proses pembelajaran tersebut menjadi efektif dan bermakna apabila ada interaksi antara siswa, sumber belajar dan materi, kondisi ruang kelas yang mendukung, sarana serta penciptaan kondisi kegiatan belajar yang bervariasi. Tujuan dari pembelajaran quantum adalah menciptakan  lingkungan belajar yang efektif, proses belajar yang  menyenangkan, menyesuaikann antara kemampuan dengan apa yang dibutuhkan otak dan mempercepat proses pembelajaran.


Sedangkan pembealjaran Jigsaw menurut Jamal adalah model pembelajaran kooperatif  yang dilaksanakan dengan  menakankan pada kerja sama antara siswa dengan siswa lain. Dalam model tersebut, siswa akan lebih banyak berkomunikasi dengan siswa lain dalam kelompoknya  dan beratanggung jawab atas keberhasilan kelompok. Biasanya kelompok yang dibentuk adalah kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 6 orang. Pada tiap kelompok diberikan permasalahan yang berbeda untuk selanjutnya mereka pecahkan.


Para peserta yang rata-rata adalah ustadz pada madrasah diniyah tersebut sangat bersemangat  mengikuti materi. Mereka mengaku mendapatkan pengetahuan baru dan akan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi madrasahnya.(AF).