Berita


Redaktur Web
2018-09-18 11:05:39
INSPEKTUR JENDERAL KEMENAG, NUR KHOLIS SETIAWAN TEKANKAN BAHWA ASN PERLU MEMILIKI 5 NILAI PENTING

BDKSURABAYA – Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Agama RI, Nur Kholis Setiawan menguraikan bahwa sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) perlu memiliki 5 nilai-nilai penting. Hal itu disampaikan ketika memberikan materi Standar Etika Publik kepada peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat IV dari Mahkamah Agung  di Balai Diklat Keagamaan Surabaya (18/09/2018).


Menurut profesor yang dilantik sebagai Inspektur Jenderal sejak 2 Agustus 2017 tersebut, 5 nilai penting  yang sebaiknya ada pada diri seorang ASN meliputi, integritas, keunggulan kompetitif, profesionalitas,  inovasi, dan tanggung jawab.


Dalam pandangannya, integritas  mempunyai  makna yang lebih dari sebuah kejujuran.  Perilaku jujur bisa dimungkinkan terjadi ketika ada instrumen yang mengawasi, misalnya sebuah aturan. Namun  jika seseorang sudah berintergitas, maka ia akan tetap berlaku jujur meskipun  tidak ada instrumen yang mengawasi sehingga ada atau tidaknya yang mengawasi individu tersebut tetap berintegritas.


Dalam kaitannya sebagai sosok yang berintegritas, ASN hendaknya menjadi pribadi yang telah selesai dengan dirinya sendiri, artinya   ia harus mampu mengendalikan dirinya sehingga akan bisa berkarya untuk kemanfaatan orang lain dan lembaga. Ia tidak terfokus pada bagaimana memuaskan dirinya sendiri dan memanfaatkan kesempatan untuk dirinya melalui kekuasaan atau jabatan yang dimiliki. Namun lebih berpikir bagaimana berkontribusi untuk orang lain dan lembaga tempatnya bekerja. Maka menurutnya, ASN perlu menjadi kusir yang baik untuk dirinya sendiri.


Mengupas masalah keunggulan kompetitif, dalam pandangan Inspektur Jenderal yang saat ini menjabat juga sebagai Plt. Sekretaris Jenderal Kemenag tersebut, bahwa seorang ASN apalagi pejabat eselon IV perlu senantiasa membangun kompetensi  diri agar memiliki keunggulan kompetitif. Membangun kompetensi diri  menurutnya sangat diperlukan bagi seorang pemimpin agar mampu menjadi pemimpin yang baik.  Proses promosi dan peningkatan karir, dalam uraiannya tak akan lepas dari penilaian apakah   ASN tersebut mempunyai keunggulan kompetitif dibanding lainnya.  Di samping itu, membangun kompetensi diri  sangat diperlukan untuk pelaksanaan tugas-tugas yang dimanahkan kepadanya.


Dalam menjelaskan tentang profesionalitas seorang ASN,  Irjen Kemenag memaparkan bahwa profesionalitas terkait dengan  pemahaman dan ketuntasan kerja seseorang. Seorang ASN dikatakan profesional ketika ia mampu memahami dan tuntas dalam  menangani bidang tugasnya. Selain itu, ia juga mampu menempatkan diri dan berperan sebagai pribadi yang bersikap serta berperilaku cerdas, misalnya dalam menyampaikan informasi  melalui media sosial, ia perlu  menyaring sebelum menyebakan informasi tersebut (3 S: saring sebelum share).


Menyoroti tentang inovasi,  menurut Nur Kholis, seorang ASN diharapkan mampu menciptakan inovasi yang terkait dengan bidang tugasnya dan  memahami dinamika yang berlaku di masyarakat, apalagi ASN adalah sebagai pelayan publik.  Misalnya ketika menciptakan regulasi, maka perlu memperhatikan dampak regulasi tersebut  pada masa-masa mendatang. Di samping itu, sebagai pejabat eselon IV, maka perlu mempunyai kemampuan dalam menerjemahkan arahan dari pejabat di atasnya. Sosok seseorang yang senantiasa berpikir out of the box menurut Nur Kholis adalah sosok ASN yang dipandangnya bersikap inovatif.


Uraian  5 nilai penting terakhir adalah tanggung jawab (responsibility). Dalam pandangan  profesor lulusan Bonn University, Jerman tersebut,  hendaknya seorang apratur mempunyai persepsi positif tentang tanggung jawab. Sebuah tugas yang diberikan atasan dalam pandangannya janganlah dianggap sebagai bentuk penjajahan, namun lebih dimaknai sebagai tugas yang akan berdampak positif bagi dirinya. Apalagi tugas ASN terkait erat dengan tugas-tugas pelayanan masyarakat. ASN  menurutnya juga penting untuk senantiasa mendorong keterlibatan masyarakat agar ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa.


Pemaparan  dari Irjen Kemenag yang diikuti oleh 80 peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat IV dari Mahkamah Agung tersebut dimoderatori oleh Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Muchammad Toha dan diakhiri dengan tanya jawab. (AF).