Berita


Redaktur Web
2018-11-29 15:33:17

BDKSURABAYA -  Hari keempat dalam proses diklat, peserta diklat di Kantor Kemenag Kab. Jombang belajar tentang praktik pembuatan bahan ajar non teks. Bahan ajar tersebut terdiri dari internet, menyisipkan musik, video atau film dalam power point, macromedia flash dan presentasi menggunakan power point. Materi tersebut disampaikan oleh Ninik Supriyati, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya.(29/11/2018).


Dalam paparannya, bahan ajar non teks mempunyai daya tarik tersendiri bagi siswa karena bahan ajar tersebut lebih variatif, interaktif dan menyenangkan, dibandingkan bahan ajar teks semisal  diktat atau modul. Bahan ajar tersebut tidak hanya menyampaikan materi namun lebih mendorong siswa lebih penasaran sehingga mampu memecut motivasi siswa untuk mengikuti proses pembelajaran. Apalagi bahan ajar yang melibatkan audio visual semisal video dan film.


Karenanya, menurut Ninik, ketika seorang guru memaparkan power point di hadapan siswanya, hendaknya disisipi musik, video atau film yang berkaitan dengan materi yang sedang dibahas. Hal itu bertujuan agar terjadi pemahaman yang utuh dari siswa dari materi yang disampaikan guru.  


Pada kesempatan tersebut, ia mempraktikkan cara membuat power point yang disertai dengan sisipan musik, video dan film. Selanjutnya  mempraktikkan cara mencari bahan ajar menggunakan link-link yang ada di internet. Link-link di internet menurutnya tidak semuanya representative dijadikan bahan ajar karena pembuat atau penulisnya ada yang diragukan kompetensinya atau keahliannya. Ia menyarankan, ketika memakai link-link di internet, perlu terlebih dahulu divalidasi penulis atau pembuatnya.


Penggunaan teknologi informasi, dalam penjelasan Ninik, menjadi sebuah keharusan sehingga guru diharapkan tidak gagap teknologi. Seorang guru dalam pandangan Ninik, idealnya lebih terampil dalam penggunaan teknologi informasi dibandingkan siswanya. Fenomena yang terjadi saat  ini adalah berkembangnya penggunaan teknologi informasi di kalangan siswa. Kemampuannya dalam penggunaan teknologi informasi pada siswa relatif lebih cepat dibandingkan guru. Maka guru perlu mengimbangi fenomena tersebut dengan meningkatkan keterampilan penggunaan teknologi informasi. (AF).