Berita


Redaktur Web
2018-11-28 14:22:50

BDKSURABAYA – Pada hari ketiga dalam proses pembelajaran Diklat Teknis Substantif Penyuluh Non PNS yang diselnggarakan Balai Diklat Keagamaan Surabaya di Kantor Kemenag Kab. Malang, peserta mengikuti materi revolusi mental. Materi yang disampaikan oleh Asmawatie Rosyidah tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta diklat tentang revolusi mental selanjutnya mampu menerapkan nilai-nilai revolusi mental dalam menjalankan tugasnya sebagai penyuluh agama. (28/11/2018).


Menurut Asmawatie, widyaiswara Balai Diklat Kegamaan Surabaya, penyuluh agama yang notabene sebagai penerang masyarakat perlu memahami, menginternalisasi dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai revolusi mental tersebut, dalam penjelasannya ada tiga yaitu, integritas, etos kerja dan gotong royong.


Integritas ditempatkan pada urutan pertama karena nilai tersebut menjadi dasar dalam  bermasyarakat, terutama dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh agama. Perilaku seseorang dalam pandangan Asmawatie pertama kali akan dinilai dari integritasnya, yaitu kejujuran dan kesesuaian antara  ucapan dan tindakan.


Nilai etos kerja  juga sangat menentukan nasib bangsa ke depan. Sebuah bangsa dengan warga  yang beretos kerja tinggi biasanya akan mencapai kemajuan yang relatif cepat dibandingkan negara dengan etos kerja rendah. Lembaga dengan pegawai yang beretos kerja tinggi biasanya mempunyai kinerja tinggi dibanding lembaga dengan etos kerja rendah.


Sedangkan gotong royong telah menjadi nilai yang turun termurun yang perlu dihidupkan di lingkungan, baik lingkungan kerja maupun masyarakat. Gotong royong bagi Asmawatie menjadi modal sosial bagi masryarakat untuk ikut bersama bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa Indonesia.Seringkali masalah-masalah yang terjadi di lingkungan bisa teratasi dengan menerapkan nilai gotong royong, karena gotong royong merupakan perwujudan empati seseorang terhadap tanggung jawab bersama. Misalnya gotong royong mengumpulkan dana untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana alam.


Di samping nilai-nilai revolusi mental, Asmawatie juga menyampaikan lima nilai budaya kerja Kementerian Agama  yang terdiri dari integritas, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Lima nilai tersebut dicetuskan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin tersebut menjadi nilai-nilai yang harus diterapkan oleh penyuluh agama dalam menjalankan profesinya.


Materi revolusi mental disampaikan Asmawatie hingga  siang hari   dilanjutkan dengan materi tugas dan fungsi penyuluh agama non PNS yang disampaikan oleh Mo. Syafrudin.(AF)