Berita


2016-09-07 05:12:35

BDKSURABAYA.kemenag.go.id - Saat ini peserta Diklat Prajabatan Golongan III Angkatan I dan II sedang mempresentasikan rancangan aktualisasi di hadapan mentor dan coach karena pada tanggal 10 s.d. 28 September mendatang mereka akan menjalani proses aktualisasi (magang) di tempat kerjanya masing-masing.

                Presentasi rancangan aktualisasi tersebut memuat kegiatan yang akan dilaksanakan ketika proses aktualisasi dan menghubungkan kegiatan tersebut dengan nilai-nilai ANEKA (Akuntabilitas PNS, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi).

                Menurut Rozaqul Arif, peserta Diklat Prajabatan yang bekerja sebagai dosen Ilmu Dakwah di Fakultas Dakwah UINSA Surabaya, nilai-nilai ANEKA bisa diterapkan dalam pengajaran terhadap mahasiswa. Ia mempresentasikan 2 kegiatan utama yaitu pengajaran terhadap mahasiswa dan pengelolaan laboratorium. Di samping mengajar ia diberi tanggung jawab sebagai pengelola laboratorium micro preaching (praktik khutbah). Arif menjelaskan bahwa untuk nilai akuntabilitas saat menjalankan tugas sebagai pengajar ditunjukkan dengan mengajar secara profesional, tidak hanya masuk kelas namun ada persiapan ketika mengajar. Nilai nasionalisme diwujudkan dalam bentuk penggunaan bahasa Indonesia dalam mengajar, menerapkan nilai-nilai demokrasi dan berdisiplin selama perkualiahan. Nilai etika publik diwujudkan dalam bentuk etika dalam mengajar seperti penggunaan bahasa yang baik, menjaga sikap dan perilaku dan tidak seenaknya ketika masuk kelas. Nilai komitmen mutu ditunjukkan dengan menjaga kualitas perkuliahan di mana setiap materi yang disampaikan perlu merujuk pada referensi yang standar. Sedangkan nilkai anti korupsi ditunjukkan dalam sikap disiplin waktu ketika masuk maupun mengakhiri perkuliahan.

           Di laboratorium micro preaching, Arif menjelaskan bahwa akuntabilitas akan ditunjukkan dengan, checking peralatan laoratorium secara profesional, misalnya semua semua barang dicatat berikut jumlahnya. Nasionalisme diwujudkan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik saat melayani pengguna laboratorium. Etika publik direalisasikan dalam pembuatan SOP (standard operating procedure) yang sesuai dengan etika ketimuran dan nilai-nilai Islam. Komitmen mutu ditunjukkan dengan selalu mengontrol peralatan yang ada. Ketika ada peralatan yang rusak dan tidak lagi bisa mendukung operasinal laboratorium bisa diperbaiki sehingga bisa meningkatkan mutu di bidang praktik khutbah. Nilai anti korupsi bisa ditunjukkan pengelola laboratorium dengan tidak menggunakan peralatan yang ada untuk kepentingan pribadi.

                Penerapan nilai-nilai ANEKA juga dinyatakan oleh Reni Wulandari peserta Diklat Prjabatan yang bekerja sebagai laboran dari UINSA Surabaya. Menurutnya semua profesi ada nilai-nilai ANEKA-nya ketika diurai. Dalam presentasinya, ia membuat rancangan aktualisasi sesuai dengan pekerjaannya sebagai laboran manajemen pendidikan. Reni menguraikan bahwa nilai akuntabilitas bisa diwujudkan dalam bentuk kecermatannya sebagai laboran dan bekerja dengan amanah. Nasionalisme bisa ditunjukkan dengan sikap kerja samanya dengan kepala laboran dan pengguna laboratorium seperti mahasiswa dan dosen. Juga menyesuaikan dengan program kerja dari program studi manajemen pendidikan. Etika publik lebih diwujudkan dalam bentuk sikap dan perilaku melayani dan tidak membedakan bentuk pelayanan kepada semua pengguna laboratorium. Komitmen mutu diwujudkan dalam bentuk inovasi yang terus-menerus dalam hal pelayanan dan penataan ruangan laboratorium. Sedangkan nilai anti korupsi bisa ditunjukkan dalam bentuk sikap jujur dan amanah dalam hal apapun. “Kegiatan laboratorium tidak hanya di ruangan saja. Kegiatan laboratorium bisa di luar kantor seperti studi lapangan. Maka dalam pelaporan kegiatan tersebut akan sesuai dengan kenyataan, terutama masalah anggaran, akan sesuai dengan relita yang ada, tidak dimanipulasi,” ujar Reni.

           Akhmad Yunan Atho’illah, peserta Diklat Prjabatan yang bekerja sebagai dosen manajemen SDM di FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) Islam UINSA Surabaya mempresentasikan kegiatan mengajar sebagai kegiatan utama dalam rancangan aktualisasinya. Seperti halnya Arifin dan Reni; menurutnya nilai-nilai ANEKA bisa diimplementasikan pada semua profesi. Nilai akuntabilitas sebagai dosen menurut Yunan dibuktikan dengan mengajar penuh dengan tanggung jawab dan amanah. Nasionalisme dapat diwujudkan dalam bentuk kegotongroyongan, misalnya belajar secara bersama-sama, menerapkan pembalajaran yang bersifat partisipatif dan penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Etika publik, ditunjukkan dengan sikap dan perilaku yang penuh etika seperti perlakuan yang manusiawi terhadap mahasiswa. Menurutnya, kelas adalah ruang sosial di mana tugas dosen lebih cenderung sebagai motivator, fasilitator dan pemberian penguatan serta arahan bagi mahasiswa saat proses pembelajaran. Mengajar penuh keteladanan menurutnya termasuk etika yang perlu dipraktikkan. Sedangkan komitmen mutu diwujudkan dalam bentuk pengajaran yang sesuai dengan SAP (satuan acara pembelajaran). Seorang pengajar bagi Yunan perlu menerapkan sikap anti korupsi dengan mengajar penuh kedisiplinan dan bersikap adil serta jujur terhadap mahasiswa baik berkaitan dengan pengisian daftar hadir mahasiswa maupun tentang pemberian nilai saat melakukan evaluasi terhadap mahasiswa.(AF).