Berita


Admin Website BDK Surabaya
2016-09-26 08:33:56

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Karya tulis ilmiah (KTI) membutuhkan kreativitas, pengetahuan dan pemahaman atas metodenya. Tanpa hal tersebut tulisan yang dihasilkan tak akan sesuai dengan kaidah penulisan KTI, kering makna dan tak mampu membentuk pemahaman yang utuh dari pembaca atas karya tulis yang dihasilkan.

                Oleh karena itu, materi Penulisan KTI bagi Penghulu diberikan pada Diklat Calon Penghulu yang dilaksanakan di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya. Dengan materi tersebut diharapkan peserta dapat memahami metode penulisan KTI bagi penghulu sehingga mereka akan mampu membuat KTI yang dapat dijadikan syarat untuk kenaikan angka kredit penghulu. Di samping itu, tulisan tersebut mampu meningkatkan pengetahuan pembaca tentang kepenghuluan.

                Menurut Mamik Syafaah, widyaiswara BDK Surabaya, untuk bisa menghasilkan KTI yang baik, maka peserta perlu memahami jenis dan bentuk KTI, kaidah dan teknik penulisan serta langkah penyusunan KTI. Untuk itulah materi penulisan KTI tersebut diberikan dengan metode ceramah dan praktik. Ceramah disampaikan untuk membentuk pemahaman peserta atas teori yang disampaikan widyaiswara; sedangkan metode praktik disampaikan untuk melihat kualitas hasil tulisan peserta sekaligus mengukur tingkat pemahaman peserta tentang KTI.

                Bagi peserta, materi tersebut sangat bermanfaat karena berkaitan dengan angka kedit yang diperoleh. Mereka rata-rata bersemangat dalam mengikuti materi. Dari materi tersebut diperoleh 15 karya tulis ilmiah populer bidang kepenghuluan yang dikerjakan peserta dalam sehari. Menurut Mamik, karya tersebut bisa terwujud karena peserta telah memahami bagaimana menulis KTI. Semua karya peserta tersebut telah dikritisinya dan dibahas secara bersama-sama di dalam kelas. Dari pembahasan tersebut, peserta semakin memahami kelebihan dan kekurangan dalam tulisannya yang belum diketahui sebelumnya.(AF).