Berita


PBSDP
2017-07-26 02:32:16
MENAG: PENYULUH HAKIKATNYA ADALAH PENERANG

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Diklat Teknis  Substantif Peningkatan Kompetensi Penyuluh Agama Non PNS  yang diselenggarakan oleh 8 Balai Diklat Keagamaan yaitu Balai Diklat Keagamaan Bandung,  Semarang, Surabaya, Ambon, Padang, Medan, Makassar dan Banjarmasin dibuka oleh Menteri Agama (Menag)  RI, Lukman Hakim Saifuddin  melalui video conference dari Kantor Kemenag Pusat, Jl. Lapangan Banteng, Jakarta (26/07/2017).


Dalam sambutannya, Menag menjelaskan bahwa  penyuluh agama adalah sebagai juru penerang yang mampu menjelaskan dalam hal ikhwal keagamaan. “penyuluh asal kata dari suluh, penyuluh hakikatnya adalah penerang,” jelas Menag.  Menurutnya, penyuluh agama adalah mereka yang mempunyai kemampuan sekaligus kemauan  terhadap kesediaan  untuk memberikan penyuluhan penerangan dan sebagai penunjuk jalan  dalam bidang keagamaan. Penerang dalam pandangan Menag berfungsi sebagai  pembimbing masyarakat. Karena dipersepsikan sebagai pembimbing dalam hal ikhwal keagamaan, maka  penyuluh adalah sebagai tempat bertanya dan rujukan masyarakat.

Sebagai penyuluh, dalam pandangan Menag, mereka harus mempunyai kesadaran bahwa penyuluhan, penerangan, bimbingan dan  hal-hal yang terkait dengan penjelasan hal ikhwal keagamaan hendaknya  penjelasan dan penerangan yang mencerahkan.

“Karena  penyuluh agama hakikatnya adalah para dai, juru penerang maka sampaikanlah ajaran agama dengan pendekatan yang sedemikian rupa sehingga penjelasan-penjelasan yang saudara berikan  mencerahkan,” jelas Menag.

Yag dimasud mencerahkan, menurut Menag adalah  bahwa dengan penerangan, masyarakat menjadi paham tentang persoalan yang ada bukan malah semakin bingung, bukan semakin memiliki persepsi dan pemikiran atau paham yg justru bertolak belakang dengan pemerintah. Maka yg dituntut dari penyuluh sebagai juru penerang adalah keluasan wawasan dalam memahami persoalan yang terkait dengan paham keagamaan. Karenanya, Menag berharap agar seorang senantiasa termotivasi untuk belajar dan belajar. Baginya belajar adalah proses yang tanpa henti (never ending process).



Diklat  bagi Penyuluh non PNS yang diselenggarakan oleh 8 Balai Diklat Keagamaan tersebut akan direncanakan akan berlangsung selama 7 hari (66 Jam pelajaran). Peserta akan menjalani proses pembelajaran dengan pendekatan andragogi. (AF).