Berita


Admin Website BDK Surabaya
2016-11-08 07:45:40

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Mencari nafkah menurut Islam adalah menjadi kewajiban seorang laki-laki yang bertindak sebagai kepala keluarga. Namun dalam era modern seperti saat ini banyak profesi yang justeru dilakukan oleh seorang wanita sehingga bekerja bukanlah dominasi seorang laki-laki. Padahal mereka juga berperan sebagi isteri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Tujuan mereka menjalani peran ganda tersebut selain ikut membantu mencari nafkah, juga sebagai ladang ibadah. Meskipun di rumah masih dibebani tanggung jawab untuk mengurus anak dan pekerjaan rumah lainnya, rata-rata mereka mengaku ihlas menjalaninya.

                Beberapa pendapat tentang peran ganda disampaikan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya. Heni Mardiningsih, misalnya. Ia menjalani peran ganda selama 7 tahun karena masuk ke BDK Surabaya sejak tahun 2009. Sebelumnya, ia juga telah menjalani peran ganda ketika menjadi honorer di Kantor Kementerian Agama Kab. Mojokerto. Jika ditotal, sudah berlangsung 20 tahun lebih ia menjalani peran gandanya. Namun menurut pengakuan wanita yang bertempat tinggal di Mojokerto tersebut, ia menjalaninya dengan ihlas meskipun terasa capek. Jarak rumah dengan tempat kerja yang lebih dari 30 km tak menyurutkan semangatnya untuk bekerja. “Rasanya memang capek Pak, namun saya jalani dengan ihlas, dan saya jadikan kerja sebagai ibadah,” ujarnya. Menurut pengakuan ibu dari 5 anak tersebut, mulai subuh ia masih sempat menyiapkan sarapan untuk keluarganya sebelum berangkat ke kantor.

                Pernyataan yang tak jauh beda disampaikan oleh Qurrota Ayun. Menurut wanita yang saat ini bertugas sebagai Penyusun Laporan Keuangan tersebut, ia sudah terbiasa menjani peran gandanya. Di samping bekerja, ia juga mengerjakan pekerjaan rumah, mulai dari mengurus anak, memasak sampai pada mengantar anak ke sekolah. Meskipun terasa ribet, namun ia menikmatinya. “Saya senang, ihlas dan bahagia Pak, meskipun kalau tiap pagi agak ribet karena harus menyiapkan sarapan dan mengurus anak. Jadi saya harus bisa memanaje waktu dengan baik, agar tak telat saat ke kantor“, pengakuannya penuh semangat.

                Nurul Fitriyah, ASN BDK Surabaya juga berpendapat serupa dengan Heni dan Ayun. Menurutnya, tugas utamanya adalah sebagai isteri dan ibu dari anak-anaknya, namun ia tetap bekerja karena merasa bertanggung jawab terhadap masa depan rumah tangganya. Ia menganggap bahwa bekerja menjadi jalan baginya untuk membentuk keluarga yang sakinah. “Dengan bekerja, paling tidak saya bisa ikut bertanggung jawab terhadap masalah ekonomi keluarga dan itu salah satu jalan untuk membentuk keluarga sakinah”, jelasnya. Menurut penjelasan ibu dari dua anak tersebut, meskipun agak ribet saat pagi hari, namun ia menjalaninya dengan penuh keihlasan dan menganggapnya sebagai ibadah.

                Penjelasan yang hampir sama datang dari Hilda Suroyya, ASN BDK Surabaya yang menangani kehumasan. Menurutnya peran ganda wanita sangat terasa sekali sejak kelahiran anak pertama, sehingga ia harus bangun lebih pagi. Di samping untuk membahagiakan keluarga karena terdapat kecukupan secara ekonomi, menurut Hilda bekerja adalah sebagai amanah dari negara yang harus ia jalankan. “Semua terasa ringan Pak jika kita menjalaninya dengan penuh keihlasan’, ujarnya.(AF).