Berita


Admin Website BDK Surabaya
2017-01-31 15:01:20
HARIS:   NILAI-NILAI KEWIRAUSAHAAN PENTING BAGI KEPALA MADRASAH

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Nilai-nilai kewirausahaan termasuk materi dasar dalam diklat untuk kepala madrasah. Dengan materi tersebut diharapkan seorang kepala madrasah mampu memaknai dan menghayati nilai-nilai kewirausahaan yang dimiliki seorang wairausaha selanjutnya diterapkan dalam mengelola madrasahnya masing-masing. Demikian penjelasan Abdul Haris, widyaisawara Balai Diklat Keagamaan Surabaya ketika dimintai penjelasan tentang nilai-nilai kewirausahaan (31/11/2017).




                “Materi nilai-nilai kewirausahaann yang diajarkan dalam diklat untuk Kepala Madrasah bukan berarti mendidik mereka menjadi pengusaha, namun lebih ditujukan untuk membentuk mereka mempunyai mental dan semangat wirausaha dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala madrasah,” jelas Haris.




                Ia menerangkan bahwa begitu banyak nilai-nilai positif yang bisa diambil dari seorang wirausaha sehingga ketika nilai-nilai positif tersebut diterapkan dalam mengelola madrasah, maka dapat diperkirakan madrasah akan maju pesat jauh melebihi sekolah umum. Semangat pantang menyerah seorang wirausaha misalnya, dalam pandangan Haris akan menjadi landasan kokoh bagi seorang kepala madrasah dalam memperjuangkan madrasahnya menjadi madrasah yang unggul. Belum lagi nilai kreativitas, inovasi dan tanggung jawab yang senantiasa melekat pada seorang wirausaha. Jika nilai-nilai tersebut ada pada kepala madrasah, maka pendidikan di madrasah akan menjadi pilihan utama orangtua siswa ketika mau mneyekolahkan anaknya. Fenomena banyaknya orangtua yang memilih pendidikan madrasah dibandingkan pendidikan umum pada saat ini juga menjadi bukti bahwa madrasah semakin maju dan meningkat kualitasnya.




                Menurut Haris, untuk mendapatkan brand (merek) yang baik dari masyarakat maka madrasah yang dimotori oleh kepala madrasah perlu melakukan aktivitas branding yaitu usaha-uasaha untuk menciptakan nama baik madrasah di mata masyarakat karena brand tidak datang begitu saja. Aktivitas branding tersebut menurut Haris dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan mutu madrasah baik dari segi pengelolaannya, kurikulumnya, kualitas guru-gurnya maupun aktivitas lain yang bersifat pelibatan masyarakat untuk ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan madrasah. Tolok ukur keberhasilan aktivitas branding tersebut adalah ketika masyarakat telah terpatri pikirannya bahwa pendidikan yang baik hanya ada di madrasah, sehingga madrasah menjadi pilihan pertama dan utama. Sedangkan aktivitas branding bisa berjalan jika kepala madrasah mempunyai jiwa   seorang wirausaha.




                Di samping itu, kemandirian seorang wirausaha juga sebagai inspirasi bagi kepala madrasah menuju pembentukan madrasah menjadi madrasah mandiri yang tidak tergantung pada dana dari masyarakat atau anggaran dari pemerintah. Hal itu dilakukan melalui penciptaan usaha-usaha yang bersifat produktif pada mdrasah. Maka nilai-nilai kewirausahaan dalam pandangan Haris menjadi nilai-nilai yang krusial. “Nilai-nilai kewirausahaan penting bagi kepala madrasah,” jelasnya (AF).