Berita


Redaktur Web
2018-09-21 15:27:49
TOHA: KITA HARUS BISA MENJADI PELAYAN YANG BAIK

BDKSURABAYA –  Pemimpin tidak harus menjadi sosok yang dilayani, namun juga perlu melayani. Setiap profesi di dalamnya terdapat sisi pelayanan, tak terkecuali pemimpin. Jika dengan tugas dan fungsi yang dipegangnya, seorang pemimpin mampu membuat  mekanisme  pekerjaan dalam lembaga tidak mengalami hambatan atau keberadaannya mampu memperlancar tujuan lembaga dalam mencapai tujuannya, hal itu berarti ia sudah menjalankan fungsi pelayanan. Demikian penjelasan Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Muchammad Toha saat diwawancarai tentang sikap ideal yang perlu dimiliki pemimpin. (21/09/2018).


Menurutnya, konsep kepemimpinan pelayan (the servant leadership) perlu dipahami oleh pemimpin sehingga sikap dan perilakunya dalam memimpin akan mencerminkan sikap melayani. Hal tersebut tampak sebagai sesuatu yang kontradiktif karena pemimpin identik dengan seseorang yang patut dilayani, bukan melayani. Namun dalam praktik kepemimpinan, konsep melayani  berlaku untuk semua posisi, baik seorang pemimpin maupun yang dipimpin. Perwujudan bentuk pelayanan tersebut berbeda antara seorang pemimpin dengan bawahan. Hal tersebut sesuai dengan bidang yang ditangani.  Yang terpenting  esensi pelayanan tersebut yang perlu ada dalam segala aktivitas kepemimpinan.”Kita harus bisa menjadi pelayan yang baik karena seorang aparatur pada hakikatnya adalah pelayan,” tandasnya.


Aktivitas dalam lingkungan kerja bagi Toha, sarat dengan sikap dan perilaku melayani, baik melayani rekan kerja, bawaan maupun stakeholder. Sikap tersebut menurutnya perlu menjadi kebiasaan bagi setiap ASN sehingga melekat dalam setiap aktivitas kerjanya.


Dalam praktiknya, kepemimpinan pelayan tersebut sejalan dengan konsep birokrasi saat ini, seperti yang tertuang dalam UU No. 5 tahun 2014 tentang ASN yang menjelaskan bahwa tugas  ASN adalah sebagai pelayan publik, pelaksana kebijakan publik dan perekat serta pemersatu bangsa. Maka dalam pandangan Toha, konsep kepemimpinan pelayan sangat sesuai dengan era kekinian sehingga bisa diterapkan dalam lembaga apapun, baik lembaga pemerintah maupun swasta.


Persepsi seseorang tentang konsep pemimpin dalam pandangan Toha akan menentukan berhasil atau tidaknya praktik kepemimpinan pelayan. Ketika seseorang mempersepsikan bahwa seorang pemimpin adalah sosok yang harus dilayani, maka sangat dimungkinkan ia tak akan berhasil menerapkan praktik tersebut. Menurut Toha seorang pemimpin dengan konsep the servant leadership harus bisa menyingkirkan egonya bahwa ia sebagai sosok yang wajib dilayani. Ketia ia mampu membuang ego bahwa ia wajib dilayani, namun juga perlu melayani, maka ia telah berhasil menerapkan praktik the servant leadership.(AF)