Berita


PBSDP
2017-10-10 02:16:23
NINIK AJARI CARA MENULIS MODUL YANG IDEAL

BDKSURABAYA.kemenag.go.id-  Modul merupakan salah satu bahan ajar  yang  berfungsi sebagai  pelengkap dari  bahan ajar yang diberikan ke siswa. Modul  bisa  berfungsi untuk  mengatasi keterbatasan waktu untuk pertemuan antara siswa dengan guru karena dari modul tersebut  siswa bisa belajar mandiri. Karenanya, modul juga berfungsi sebagai self instruction bagi siswa. Demikian penjelasan Ninik Supriyati, widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya ketika diwawancarai  tentang penulisan modul. Saat ini ia sedang mengajar pada   Diklat Teknis Substantif Peningkatan Kompetensi Publkasi Ilmiah bagi guru Madrsah Aliyah.







Dengan modul siswa juga dapat mengukur kemampuannya karena menurut Ninik di dalam sebuah modul ada soal-soal sekaligus kunci jawabannya sehingga siswa dapat mencocokkan jawaban yang telah ia buat dengan kunci jawabannya. Jika tingkat pencapaiannya masih rendah misalkan 80% maka siswa dapat  mempelajari  kembali modul tersebut  dan mengerjakan soal lagi.







Ia menjelaskan bahwa modul yang baik adalah modul  yang setidaknya berisi tiga bagian pokok yaitu pendahuluan, isi dan penutup. Pendahuluan berisi tentang latar belakang, tujuan, peta materi- materi pokok dan sub materi pokok. Untuk  bagian isi menguraikan tentang  materinya, lengkap dengan pembahasan, rangkuman, evaluasi/soal-soal,  umpan balik dan tindak lanjut. Sedangkan materi penutup berisi tentang  inti dari semua materi termasuk soal beserta kunci jawabannya.







Di samping itu,  modul yang ideal perlu disertai dengan kata kunci yang diletakkan di halaman belakang atau depan, dan terdapat  referensi . Sedangkan kutipan harus mencantumkan  sumbernya yang valid.







Ada yang sedikit berbeda dari proses pembelajaran  materi penulisan  karya ilmiah berbentuk modul  tersebut. Biasanya proses pembelajaran dilaksanakan di kelas sedangkan  khusus untuk materi tersebut Ninik mengajak peserta ke perpustakaan,  karena menurutnya peserta langsung bisa praktik membuat modul dengan referensi buku-buku yang ada di perpustakaan. “Pembelajaran tidak harus di kelas karena justeru di perpustkaan mereka akan mendapatkan contoh-contoh modul  terbitan dari pusdiklat Jakarta dan memanfaatkan buku-buku perpustakaan sebagai referensi,”  ujar Ninik.(AF).