Berita


Redweb
2018-06-28 11:02:22
KEPALA BDK SURABAYA LANTIK WIDYAISWARA BAHASA ARAB

BDKSURABAYA – Bertempat di aula lantai 2, Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya, Muchammad Toha  melantik satu orang widyaiswara dengan spesialisasi Bahasa Arab (28/06/2018). Pelantikan tersebut menjadi tanda  sekaligus prosesi yang mengesahkan Mushollin untuk menduduki jabatan fungsional widyaiswara.



Sebelumnya, ia  tercatat sebagai dosen pada Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Pamekasan dengan  jabatan sebgai lektor.  Dengan keluarnya Keputusan Menteri Agama Nomor : B.II/3/14931 tanggal 10 April 2018, maka Mushollin diangkat  pertama kali dalam jabatan fungsional widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Surabaya pada jabatan widyaiswara ahli muda dengan angka kredit sebanyak 273,97 kumulatif.



Dengan pelantikan tersebut jumlah widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya saat ini bertambah  menjadi 41 orang.  Sebelumnya, widyaiswara dengan spesialasi Bahasa Arab  berjumlah 2 orang. Dilantiknya Mushollin,  berarti menambah kemampuan widyaiswara BDK Surabaya dalam menangani diklat, khususnya untuk Bahasa Arab.



Usai prosesi pelantikan beberapa pesan penting  disampaikan Kepala BDK Surabaya kepada terlantik, diantaranya bahwa jabatan adalah sebuah amanah yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Jabatan juga merupakan takdir dari Allah. S.WT. Kejadian saat ini menurutnya sudah tercatat pada lauhul mahfudz sehingga perjalanan manusia hanyalah menjalani takdirNya.



Acara pelantikan yang dihadiri oleh pejabat dan seluruh Aparatur Sipil Negara BDK Surabaya tersebut juga dilengkapi dengan penyampaian pesan dan kesan dari Kasubbag TU, Imam Sutikno yang akan purna tugas pada 29 Juni 2018.



Imam menyampaikan bahwa  selama menjadi ASN BDK Surabaya  penuh dengan hubungan sosial yang baik. Hubungan antar pegawai yang harmonis tersebut sangat membekas dalam dirinya dan menurutnya menjadi modal sosial bagi lembaga untuk  menjalankan tugas dan fungsinya.  Ia berharap hubungan tersebut terus terjalin meskipun ia sudah pensiun. “Pekerjaan bisa saja pensun, namun hubungan silaturahim harus terus berlanjut sampai tutup uisa,” ujarnya. (AF).