Berita


PBSDP
2017-08-16 02:42:23
MAKNA  KEMERDEKAAN DALAM PANDANGAN ASN BDK SURABAYA

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Saat ini kemerdekaan Indonesia telah memasuki usia ke-72 tahun.  Begitu banyak kemajuan pembangunan dibanding tahun-tahun sebelum merdeka. Namun saat ini kita belumlah merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Demikian pandangan rata-rata Aparatur Sipil Negara (ASN) Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya ketika dimintai pandangannya.



Menurut Hilda, ASN BDK Surabaya yang menangani kehumasan,  kemerdekaan artinya sudah bebas dari kungkungan penjajahan dalam berbagai bentuk, baik dalam bentuk penguasaan atas kedaulatan negara, ekonomi, sosial, budaya,  politik dan pertahanan keamanan.  “Nyatanya, saat ini kondisi di Indonesia tidaklah demikian. Ketergantungan pangan terhadap negara asing, ketidakmandirian secara ekonomi dan masih adanya intervensi negara asing terhadap perpolitikan di negara kita menunjukkan  masih belum merdekanya kita secara total,” ujar Hilda.



Pernyataan yang sama disampaikan oleh Rofiq, ASN BDK Surabaya yang menangani persediaan. Baginya, negara yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya adalah negara yang berdaulat, tak dipengaruhi oleh kehendak asing, mandiri secara ekonomi dan mempunyai pertahanan dan keamanan yang mampu melindungi rakyatnya.  Banyaknya produk asing dan  semakin tergerusnya produk lokal adalah bukti nyata bahwa sebenarnya bangsa Indonesia belumlah merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Belum lagi banyak aset yang sudah dimiliki oleh negara asing.



Agus, ASN BDK Surabaya yang menangani  kerumahtanggaan menyatakan hal yang serupa. Kemerdekaan menurutnya adalah sebuah kondisi bangsa yang bebas dari tekanan pihak manapun, mandiri secara ekonomi, poliitik, sosial dan budaya serta pertahanan dan keamanan.  Jika hal itu belum terpenuhi, berarti belumlah bisa dikatakan benar-benar merdeka. Menurutnya  masih tergantungnya Indonesia  dengan negara asing dalam hal ekonomi,  adanya penjajahan budaya dan masih adanya pengaruh asing dalam percaturan politik dalam negeri mengindikasikan bahwa kemerdekaan yang hakiki belumlah terwujud.



Bagi Lutfi, ASN yang bertugas sebagai pengelola Barang Milik Negara  menyatakan bahwa merdeka secara hakiki ditandai dengan  kemandirian. Jika sebuah bangsa belum mandiri secara total, berarti sebenarnya bangsa tersebut belumlah dikatakan merdeka meskipun secara de yure dan de facto sudah merdeka. Ia menyatakan bahwa yang terpenting dari kemerdekaan bukanlah bungkusnya namun esensinya. Sebuah bangsa bisa saja sudah merdeka namun ketika masih adanya ketergantungan terhadap negara asing berarti esensinya belumlah merdeka. Maka tugas generasi penerus adalah untuk menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka secara hakiki. (AF).