Berita


Redweb
2018-05-21 14:39:29
TOHA: JANGAN BENTURKAN AGAMA DENGAN NEGARA

BDKSURABAYA – “Jangan benturkan agama dengan negara,” demikian petikan sambutan pengarahan Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK)  Surabaya, Muchammad  Toha dengan berapi-api di hadapan 210 peserta diklat  yang terdiri dari guru madrasah di lingkungan Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.  Sambutan pengarahan tersebut  sekaligus sebagai tanda dibukanya 6 angkatan diklat di BDK Surabaya, yang terdiri dari Diklat Guru Matematika Maadrsah Tsanawiyah (MTs), Bimbingan Konseling Madrasah Aliyah (MA), Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) MTs, Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) MA dan Diklat Pembelajran Tematik MI.(21/05/2018)



Lebih lanjut Toha menjelaskan bahwa Negara Indonesia berdiri dan merdeka berawal dari  perjuangan para ulama, berbeda dengan Negara Amerika Serikat  di mana berdirinya negara berdasarkan perasaan sakit hati terhadap agama. Karenanya, baginya agama tak bisa dipisahkan dengan negara.



Begitu pentingnya peran agama dalam membangun bangsa, maka ia berpesan kepada peserta diklat PPKn agar mengajarkan kepada siswanya cara berbangsa dan bernegara yang benar dengan tidak memisahkan agama dengan negara. Dalam proses pembelajaran di madrasah hendaknya guru PPKn bisa mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan nilai-nilai kebangsaan.



Toha juga mengingatkan agar peserta arif dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan keagamaan terkait banyaknya organisasi sosial dan keagamaan, di mana praktik ibadahnya  agak sedikit berbeda. Jangan sampai peserta justeru memperuncing masalah yang sebenarnya hanya masalah sepele hingga terjadi konflik antar golongan atau organisasi keagamaan. Peserta diharapkan mampu menjaga kerukunan dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan meskipun benderanya berbeda.



Selain itu, dalam pandangan Toha guru akidah akhlak mempunyai peran penting untuk membentuk akhlak atau budi pekerti siswa. Jangan sampai siswa yang notabene sebagai penerus bangsa hanya menjadi orang yang pintar namun miskin akhlak.



Guru Bimbingan Konseling (BK) pun tak lepas dari perhatian Toha. Ia menjelaskan bahwa guru BK turut andil dalam membentuk  perilaku siswa. Karenanya, dalam setiap bimbingan dan konseling, guru diharapkan mampu memberikan sentuhan agama. Guru BK bertanggung jawab terhadap perilaku dan menghidupkan qolbu dari siswa. Jangan sampai siswa hanya patuh karena keterpaksaan melainkan atas dasar kesadaran pribadi.



Sedangkan kepada peserta guru SKI, Matematika dan Tematik, Toha  berpesan agar peserta mampu memberikan pelajaran yang secara praktis bermanfaat bagi perkembangan keilmuan dari siswa. Ia berharap agar diklat yang akan berakhir 26 Mei tersebut dimanfaatkan peserta sebaik mungkin.(AF).