Berita


Redaktur Web
2019-04-23 15:02:00
HARI KEDUA, PESERTA DIKLAT  DI PASURUAN IKUTI MATERI PEMETAAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN

BDKSURABAYA – Memasuki hari kedua, peserta Diklat Teknis Substantif Penilaian Pembelajaran bagi Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kantor Kemenag Kota Pasuruan  mengikuti materi pemetaan kompetensi pembelajaran. Materi tersebut termasuk  materi inti dalam diklat penilaian pembelajaran. (23/04/2019).


Menurut, Tri Rumhadi widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya, tujuan pemberian materi pemetaan kompetensi pembelajran adalah agar peserta mampu menganalisis pemetaan kompetensi pembelajaran yang meliputi pemahaman tentang standar kompetensi lulusan, kompetensi inti, kompetensi dasar dan penyusunan indikator. Di samping itu agar peserta memahami kata kerja operaasional untuk kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.




Dalam penjelasan Tri Rumhadi, standar kompetensi adalah suatu ukuran kemampuan yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti sebuah proses dalam satuan pendidikan tertentu. Sedangkan standar kompetensi lulusan (SKL) adalah kualifikasi kemampuan lulusan minmal yang harus dicapai yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.


Ketika membahas tentang kompetensi inti (KI) ia menjelaskan bahwa KI merupakan standar penilaian dalam tiap tingkatan dan kelas. KI berisi uraian dari SKL. Sedangkan KI terdiri dari kompetensi sikap spiritual (K-1), Komepetnsi inti sikap sosial (K-2), kompetensi inti pengetahuan (K-3) dan kompetensi inti keterampilan (K-4).


Sedangkan kompetensi dasar (KD)  dalam uraiannya berisi kemampuan dan muatan pembelajaran untuk mata pelajaran yang mengacu pada kompetensi inti (KI). Kompetensi Dasar dirumuskan untuk mencapai kompetensi inti. Perumusan KD tersebut perlu memperhatikan karakteristik dan kompetensi siswa pada mata pelajaran tertentu.


Dalam penjabaran indikator pencapaian kompetensi (IPK) Tri Rumhadi menguraikan bahwa IPK adalah penanda pencapaian KD yang ditunjukkan oleh adanya perubahan perilaku yang terukur, meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator tersebut perlu dikembangkan sesuai dengan karakteristik siswa, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah, dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan bisa diobservasi.(AF)