Berita


PBSDP
2017-12-07 13:30:44
KAPAN KERJA DIKATAKAN BERNILAI IBADAH?

BDKSURABAYA.kemenag.go.id – Kerja adalah sarana untuk mendapatkan rizki dari Allah S.W.T. sehingga bekerja dapat bernilai ibadah. Nilai ibadah tersebut dapat dilihat dari cara bekerja, prosesnya dan bagaimana memanfaatkan hasil kerja atau rizki yang diperolehnya. Demikian rata-rata pendapat Aparatur Sipil Negara (ASN)  Balai Diklat Keagamaan Surabaya.



Menurut Imam Sutikno yang menjabat sebagai Kasubbag TU, kerja dapat dikatakan sebagai ibadah ketika  memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya cara melakukannya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, selanjutnya digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. “Kerja bisa bernilai ibadah  jika dalam bekerja tidak berseberangan dengan ajaran agama misalnya tidak bertlaku korupsi, taat pada aturan lembaga, tidak bertindak curang atau cara-cara lain yang menyalahi aturan agama seperti penipuan atau pencurian,” ujar Imam. Selanjutnya pekerjaan tersebut didasari rasa ihlas dan hasil pekerjaan dipakai untuk sesuatu yang bermanfaat seperti menafkahi keluarga, bersedekah atau kebaikan-kebaikan lainnya.



Sedangkan Hilda menyatakan hal yang serupa bahwa  nilai ibadah dari pekerjaan dapat dilihat dari cara, proses dan penggunaan hasil dari pekerjaan tersebut. “Cara bekerja dari seseorang yang menyalahi ajaran agama, hal itu tidak bernilai ibadah meskipun digunakan untuk menafkahi keluarga,” tegas Hilda. Proses dalam bekerja, baginya juga  menjadi faktor yang menentukan sebuah pekerjaan tersebut bernilai ibadah ataukah bukan. Menurutnya bekerja perlu dillaksanakan dengan penuh keihlasan, tidak bersikap transaksional dan selalu menjaga hubungan baik dengan teman sekerja. Konsep keihlasan menurutnya bukan berarti bersedia bekerja dengan tidak mendapatkan gaji, namun lebih ke arah bagaimana cara seorang pegawai menghadapi, melaksanakan dan menerima  pekerjaan tanpa selalu mengaitkannya dengan perolehan rupiah. Gaji dan tunjangan menurutnya menjadi kosekuensi logis dari seseorang yang bekerja, namun selalu menghitung-hitung nilai rupiah dalam pekerjaan adalah sikap yang jauh dari rasa ihlas.



Bagi Lutfi bekerja akan   bernilai ibadah jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, sedangkan hasilnya dimanfaatkan untuk menafkahi keluarga dan kebaikan lannya. “Apakah bekerja  bernilai ibadah atau tidak, hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana cara seorang pegawai bekerja, bagaimana melakukan pekerjaan tersebut, apakah bertentangan dengan ajaran agama ataukah tidak, apakah ia telah melaksanakan tugas dna tanggung jawabnya sebagai pegawai dan apakah ia memanfaatkan hasil pekerjaan tersebut untuk kebaikan,” urai Lutfi.



Pernyataan tentang nilai ibadah dari  bekerja juga datang dari Rofiq. Baginya bekerja bisa bernilai ibadah bagi seorang pegawai jika ia bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, tidak melanggar aturan dan nilai-nilai agama dalam bekerja, menjaga hubungan baik dengan teman kantor dan  memanfaatkan gaji dan tunjangan untuk menafkahi keluarga dan perbuatan baik lainnya (AF).