Profil Kepala BDK Surabaya



Nama Dr. H. Muchammad Toha, M.Si. tak asing di telinga masyarakat Gresik, karena sebelum menjabat sebagai Kepala Balai Diklat Keagamaan Surabaya mulai Maret 2015, di samping kesibukannya sebagai Aparatur Sipil  Negara, saat libur kerja ia aktif dalam organisasi sosial Keagamaan dan menjadi tokoh masyarakat di Kabupaten Gresik. Bahkan sampai saat ini pria kelahiran Gresik, 28 Oktober 1969 tersebut masih sempat meluangkan waktu untuk kegiatan sosial kemasyarakatan saat hari libur.

Karir sebagai aparatur negara tampaknya menjadi pilihan hidupnya. Maka tahun 2003 ia memutuskan untuk menjadi PNS di Kementerian Agama Kabupaten Gresik sebagai Penyuluh Agama Islam. Profesi tersebut ia tekuni selama tiga tahun. Selanjutnya mulai Juli 2006, suami dari Fadhilatun, S.Ag dan bapak dari tiga orang putri yang bernama Safara Akmaliah, Nazila Rahmaniah dan Nazhifah Maulidiah tersebut pindah tugas menjadi widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Surabaya. Setelah menjadi widyaiswara selama 9 tahun, ia diberi amanat untuk memimpin Balai Diklat Keagamaan Surabaya.

Menurutnya, profesi sebagai widyaiswara perlu ditunjang oleh pendidikan yang berkualitas. Karenanya, saat menjadi widyiaiswara ia melanjutkan studinya ke jenjang S3 dan lulus pada tahun 2012 dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (sekarang UINSA). Dengan lulusnya dari studi dan setelah mampu memeprtahankan disertasinya bertema “Nyekar di Surowiti”, ia menjadi tokoh antropologi agama di Jawa Timur

Secara berurutan, pendidikan yang telah ia lalui dimulai dari MIS Trate Putra yang lulus tahun 1982, SMPN 1 Gresik tamat pada tahun 1985, STM Negeri 1 Surabaya diselesaikan tahun 1988; selanjutnya lulus dari S1 pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1994. Program Pasca Sarjana Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya menjadi pilihan studinya setelah S1 dan lulus tahun 2002.

Di samping pendidikan formal, sosok pria yang penuh humor tersebut pernah mengikuti beberapa pelatihan seperti Pemantapan Wawasan Kebangsaan tahun 2014 yang diselenggarakan oleh Kemenkopolhukam, Seminar Kebangsaan di Bakesbangpol Surabaya, Pelatihan Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan yang dilaksanakan oleh Lemhanas RI, Pelathan Pengawas Isu Khusus di Yogyakarta tahun 2009 dan diklat-diklat yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Tenaga Administrasi dan Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Menurut pria yang telah mendapatkan satyalancana karya satya 10 tahun pada  tahun 2014 tersebut, Balai Diklat Keagamaan Surabaya akan bisa maju jika setiap komponen yang ada memahami dan amanah terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Ia mempunyai visi menjadikan Balai Diklat Keagamaan Surabaya sebagai Balai yang terdepan dalam segala hal. (AF)